Bisnis, Nusa Dua - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti pendalaman pasar keuangan Indonesia yang baru mencapai 50-60 persen. Angka ini jauh di bawah dibandingkan angka pendalaman keuangan yang ideal bagi negara maju sekitar 150-200 persen.

Sri Mulyani menyebutkan pendalaman pasar keuangan di negara maju bisa lebih bagus karena investasi di pasar modal jauh lebih besar daripada di perbankan. "Mereka kalau ada dana tidak ditabung, tapi beli surat utang (bonds)," kata Sri dalam Annual International Forum on Economic Development and Public Policy di Nusa Dua, Bali, Kamis, 8 Desember 2016.

Salah satu penghambat perluasan pasar keuangan dalam negeri, menurut Sri Mulyani, adalah tingkat kemiskinan. Oleh sebab itu, Kementerian Keuangan berupaya menggenjot pertumbuhan ekonomi untuk mendorong perekonomian masyarakat.

Kementerian Keuangan tengah mengkaji akses dan pemanfaatan dana pensiun serta iuran kesehatan. Pengelolaan dana pensiun dapat diinvestasikan melalui berbagai instrumen keuangan.

Kepala Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Anggito Abimanyu mengatakan pendalaman pasar keuangan dapat dilakukan dengan reformasi perbankan serta perbaikan perusahaan sekuritas. Saat ini kontribusi pasar modal domestik cuma 1 persen, sementara tingkat kredit terhadap produk domestik bruto 45 persen tahun 2015. "Masalahnya jika uang masuk ke obligasi dan pasar modal, bisa dipakai untuk proyek nggak?" kata Anggito.

Sementara itu, menurut Anggito, surat utang korporasi sangat bergantung pada proyek. Pembiayan dari dana pensiun juga rendah. "Oleh sebab itu, inflasi inti harus turun supaya suku bunga diturunkan. Kalau tidak ya likuiditas dicukupi," ucapnya.

PUTRI ADITYOWATI